Hari minggu, 3 Agustus yang lalu Aku, Andrew, Sony, Edy jalan-jalan ke Borobudur. Ndak terlalu jauh dari UGM, kira-kira 45 menit sampai 1 jam perjalanan naik sepeda motor. Rencana ke sana sangat mendadak, sekitar jam sebelas malam ketika sedang ngedit-edit buku angkatan. Tapi karena dah diniatin buat refrehsing, keesokan harinya kita tetap ke sana juga.
Sudah sekitar 10 tahun ndak ke Borobudur, banyak sekali perubahan yang aku lihat. Yach, pokoknya tambah nyaman dan enak untuk dilihat. Pemugaran candi dan pengaturan tata letak lokasi wisata yang terintegrasi secara teratur antara candi borobudur, museum, taman, maupun pasar wisata menjadikan candi borobudur layak dijadikan sebagai salah satu tempat wisata bertaraf internasional.
Step by step anak tangga candi borobudur kita lalui. Cukup melelehkan juga, maklum sudah tengah hari. Tak jarang kita duduk sekedar melepas lelah sembari membicarakan kemegahan karya arsitektur yang di bangun pada masa Raja Samaratungga, Dinasti Syailendra itu (kalau ndak salah hehehe). Ribuan balok batu disusun dengan cara manual (maklum saat itu kan belum ada ekskavator dan temen-temenya J ), tanpa semen namun bisa bertahan sampai sekarang.
Tak jarang kita melihat beberapa tulisan untuk tidak membuang sampah sembarangan, mencorat-coret dinding, maupun memanjat stupa. Walaupun demikian masih saja banyak pengunjung yang melanggarnya. Tak jarang sony mengambil sampah (botol minuman mineral maupun bungkus rokok), lalu memasukkannya ke tempat sampah yang sudah disediakan pengelola. Memang mungkin saja para pengunjung lupa untuk membuang sampah ditempatnya karena sedang sibuk berfoto-foto ria, namun hal itu tetap saja tidak bisa dijadikan sebuah pembelaan untuk tidak membuang sampah pada tempatnya . But, overall tempat wisata sejarah ini sangatlah menakjubkan dan sangat cocok untuk tempat refreshing….

Recent Comments