“Kuliah Mas?, di mana?”, sapa seorang tukang ojek sembari duduk di sampingku. “Iya Pak, saya kuliah di Jogja, ini dari tadi nunggu bus koq ndak dateng-dateng.”, jawabku sekenanya. Sambil terus mengepulkan asap rokoknya tukang ojek itu pun mulai membuka pembicaraan. “Sekarang koq semuanya mahal ya mas?”, celetuk bapak itu. “Ehmm…, yang beginilah pak, efek berantai dari kenaikan BBM. Harga barang-barang jadi ikut naik”, lanjutku. “Memang bapak mulai berangkat ngojek dari jam berapa pak, trus berapa kali narik?” tanyaku penuh selidik. “Saya berangkat jam 6 pagi, itupun sudah dapet giliran ke 5 buat ngangkut penumpang.” , jawab bapak itu sambil menghisap rokoknya yang sudah hampir habis. “Paling-paling sehari cuma narik dua kali mas”, lanjut bapak itu.
“Wah, saya ndak akan nyoblos mas, males, kecuali saya diberi uang 20 ribu sebagai pengganti karena saya ndak narik. Daripada buat nyoblos mending buat nyari duit”, jelas bapak itu panjang lebar. Sesekali bapak itu menoleh ke kanan kiri sembari mencari penumpang. “Slain itu mas, setelah calon gubernur jadi, pasti mereka-mereka juga lupa kepada kita. Mereka hanya dekat untuk kepentingan mereka saja”, lanjut bapak itu.
“Jogja-jogja…”, tiba-tiba suara kernet bus memecah keakraban perbincangan kami yang mulai terbangun. “Itu mas busnya, hati-hati di jalan mas”, pesan bapak itu. “Terimakasih pak, selamat bekerja”, jawabku.
Yach, sebuah kondisi nyata di masyarakat kita sekarang ini….
APATIS memang, namun itu juga sangat REALISTIS ditengah sulitnya mencari sesuap nasi…

Recent Comments