Lelah duduk ngikutin kuliah masih terasa ketika seorang temen tiba-tiba ngajakin tukeran artikel-artikel menarik tentang sisi-sisi lain kehidupan. Waktu itu sehabis kuliah Gizi I, aku ngobrol dengan seorang temen baru dari Sulawesi Selatan, sebut saja namanya Fulanah. Yah, mungkin karena ada ketertarikan pada satu hal yang sama, obrolan tentang artikel-artikel tersebut menjadi lebih mengalir. Singkat cerita aku ndapetin beberapa file microsoft word dari si Fulanah yang malem harinya langsung ku liat-liat. Subhanalloh, satu file saja – yang isinya merupakan kumpulan-kumpulan artikel yang dikopi dari situs eramuslim.com - ternyata mencapai ratusan halaman, bahkan ada yang lebih dari 400 an halaman.Kapan sempet aku baca (masalahnya aku orang yang sok sibuk
). Satu yang terbayang, umm… dia rajin banget ngikutin perkembangan disitus tersebut sekaligus ngeprint nya menjadi sebuah buku.
Satu hari berselang, kebetulan aku lagi males ngapa-ngapain, aku buka and liat-liat isi dari file tersebut. File yang isinya banyak mengupas tentang hal-ihwal kehidupan sebagai manusia itu cukup membuatku bisa melupakan tugas-tugas kuliah yang beratnya bahkan melebihi tugas-tugas waktu S1 dulu. Lama membaca ketertarikanku semakin membesar, dan semakin tertarik ketika membaca sebuah artikel tentang seorang anak. Namanya Faiz Abdurrahman, aku pikir dia sangat cerdas sebagai anak di usianya waktu itu. Nah…. (bla.bla..bla..). Aku pikir aku ndak usah ngasi sebuah review untuk artikel ini karena semua pembaca pasti juga sudah tau tentang apa yang ada dipikiranku.
Baca sendiri ya..(Ini cuplikan filenya)
Publikasi: 09/01/2004 13:51 WIB
eramuslim – Hari ini Faiz pulang cepat dari sekolah. Sambil bermain komputer, ia menanyakan berbagai hal tentang Pemilu 2004. Tentang KPU, usia pemilih dan yang dipilih, tentang artis yang menjadi caleg, tentang apa dan siapa yang disebut politikus busuk, soal bagaimana mekanisme pemilihan bagi para tunanetra dan masih banyak lagi. Saya sampai kewalahan menjawabnya. Ia terus mengoceh ini itu. Saya katakan, “Bagaimana kalau Faiz tulis apa yang ingin Faiz sampaikan seperti biasa? Siapa tahu bisa jadi puisi bagus?”
“Iya, Bunda,” katanya ringan.
Tapi kemudian ia menghilang dan saya temukan sedang asyik membaca buku cerita “Kluntung Waluh” di garasi. Satu jam kemudian ia sudah sibuk menceritakan kembali isi buku tersebut pada kedua pembantu kami.
Kluntung Waluh bercerita tentang seorang anak kecil miskin yang lahir tanpa kaki dan tangan. Namun ia tak pernah mengeluh dan rajin membantu ibunya. “Anak kecil aja bisa begitu!” seru Faiz.
Ia kembali masuk ke kamar dan duduk di depan komputer. Saya pikir, ia akan bermain game atau menulis tentang Kluntung Waluh yang telah menyentuh hatinya. Ternyata tidak.
Menjelang salat jum’at, jadilah puisi di bawah ini. Puisi yang sangat menyentuh bagi saya, hingga saya menitikkan airmata. Dan sambil memiringkan kepalanya, menatap saya serius, Faiz malah bertanya, “Mengapa sih bunda menangis lagi karena puisi?”
SAJAK ANAK 8 TAHUN, MENJELANG PEMILU
Bunda.
mengapa anak 8 tahun.tak boleh ikut pemilu?
Karena kalau kami bisa memilih.
kami akan pilih. mereka yang berbudi.
dan selalu peduli.
yang tak pentingkan diri sendiri
tak pernah melanggar hukum.
serta paling anti korupsi.
Kami pasti memilih
mereka yang berwawasan
namun takut pada Tuhan.
Tak usah tawari kami uang.
apalagi permen atau mainan.
kami tiada sudi.
sebab kami pemilih sejati.
yang rindu senyuman negeri.
maka orang-orang yang tak bersih.
menyingkirlah dari jalan ini.
Bunda, mengapa anak 8 tahun.
tak boleh memilih.
dan harus menunggu.
sampai 2014?
Sebab andai bisa memilih.
dalam pemilu ini,
kami akan pastikan yang terbaik.
bagi Indonesia.
9 Januari, 2004, Abdurahman Faiz
Helvy Tiana Rosa
*Faiz Abdurrahman, adalah pemenang Pertama Lomba Menulis Surat untuk Presiden Tingkat Nasional, Kategori Kelas I-III SD dalam Rangka Hari Anak 2003, dan diumumkan pada 10 Agustus 2003, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Recent Comments